Dalam Islam diajarkan bahwa kita tidak boleh duduk di jalan karena dapat menganggu orang lewat dan kita tidak bisa menjaga pandangan dari hal-hal yang tidak berguna maupun yang dilarang, maka kita harus melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar didalamnya. Di daerah pedesaan banyak masyarakat yang tidak punya tempat yang luas, jadi ketika menjemur pakaian yang biasanya dulu dujemur di kebun dan di depan halaman tapi sekarang menjemur pakaian, kayu, maupun padi banyak yang dijemur di jalan.
Hak tetangga, manusia mempunyai fitroh sebagai makhluk sosial untuk selalu hidup berdampingan dengan orang lain. Islam adalah agama yang sempurna, diridhoi oleh sang pencipta yaitu Allah SWT, mengatur urusan-urusan antara Allah dengan hamba-Nya, dan ajaran-ajaran antara hamba dengan hamba-Nya. Semua hamba mempunyai hak atas Allah dan Allah mempunyai hak terhadap hamba-Nya.
Q.S. Annisa ayat 36 :
وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً
وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى
وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا
مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً
4.36. Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh , dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,
Hak-hak yang harus ditunaikan oleh orang yang beriman:
1. Hak hamba kepada Allah : yaitu menyembah Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.
2. Hak kepada kedua orang tua : karena hak orangtua hampir sejajar dengan hak kepada Allah, sehingga keridhoan Allah tergantung dengan keridhoan orangtua.
3. Hak kepada kerabat : yaitu saudara yang ada hubungan nasab dari orangtua kita, yang harus lebih dulu kita tunaikan haknya.
4. Hak anak yatim dan orang miskin : yaitu karena kekurangannya maka kita mempunyai hak untuk menyantuni mereka.
5. Hak tetangga dekat dan jauh
6. Hak Ibnu Sabil
7. Hak Hamba Sahaya
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Al-Bazhar, tetangga ada tiga macam:
1. Tetangga yang mempunyai satu hak : yakni tetangga yang terdekat, haknya yaitu tetangga yang kafir atau musrik tidak mempunyai hubungan kerabat.
2. Tetangga yang mempunyai dua hak : tetangga yang mempunyai hubungan kerabat, dia seorang muslim maka dia mempunyai hak tetangga dan hak seorang muslim.
3. Tetangga yang mempunyai tiga hak : yakni hak tetangga, hak hubungan nasab dan hak seorang muslim yang kita tunaikan kepada mereka.
Begitu pentingnya hak-hak ketetanggaan. Rosululloh bersabda dlm sebuah hadist :
“Jibril selalu berwasiat kepadaku mengenai tetangga sehingga aku menghadiahkan mewariskannya”.
Apabila di dalam masyarakat masih kurang tentang pengertian agama maka dengan kita mengkaji setiap hari sehingga bisa membentuk suatu kelompok-kelompok muslim yang sama-sama mengerti hak dan kewajibannya, memahami syariat agama sehingga apa yang diajarkan oleh agama dapat terpenuhi dengan sendirinya.
HaK Tetangga
Allah berfirman dalam surat An-Nisa: 36
وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً
وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى
وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا
مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً
4: 36. Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh , dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,Di dalam bertetangga sebagaimana diwasiatkan oleh Allah SWT pada ayat di atas agar kita senantiasa baik pada tetangga. Rosulullah SAW memberikan contoh dan menganjurkan kepada umat Islam yang mengaku dirinya beriman untuk memenuhi hak tetangganya.
Kita adalah makhuk sosial tentu saja hidup bermasyarakat. Namun, ada masyarakat yang baik dan ada juga masyarakat yang buruk, ada tetangga yang baik dan ada juga tetangga yang buruk. Jika kita mempunyai tetangga-tetangga yang baik tentu saja tidak akan menimbulkan masalah sedikit pun, tetapi bagaimana dengan tetangga yang jelek? Bagaimana menyikapi gangguan tetangga yang jelek?
Seorang ulama Tabi’in Malik bin Dinar, beliau mempunyai seorang tetangga (orang Yahudi) yang kita tahu bahwa sikap, watak atau karakter orang Yahudi dari dahulu sampai kiamat nanti adalah suka usil dan banyak membuat ulah. Orang Yahudi itu sengaja memindahkan bak mandinya mepet dengan tembok Malik bin Dinar karena kedengkiannya kepada beliau. Kita jangan membayangkan bak mandi beliau(Malik bin Dinar) seperti bak mandi jaman sekarang yang sedemikian kuat, tidak bisa bocor, dan permanen. Bak mandi jaman dahulu itu seperti terbuat dari tanah bahasa Jawanya Jembangan, gembarannya yaitu seperti panci besar yang terbuat dari gerabah yang mudah sekali pecah. Orang Yahudi tetangga Malik bin Dinar sengaja memindahkan tempat mandinya berdempetan dengan tembok Malik bin Dinar. Tembok jaman dahulu hanya berdiri dibangun dengan batu atau bata dan tanah saja, tidak seperti sekarang yang keras, bersemen, dll. Saking banyaknya air yang mengenai tembok Malik bin Dinar, akhirnya tembok beliau roboh sehingga air atau pun kotoran-kotoran dari tempat mandi orang Yahudi tersebut terus masuk ke rumah Malik bin Dinar. Setiap hari dengan sabarnya Malik bin Dinar membersikan setiap kotoran yang masuk ke dalam rumahnya tanpa berkata-kata apa pun. Dengan sabar menerima gangguan tersebut. Akhirnya si-Yahudi ini bingung sendiri dan berkata “wahai Malik bin Dinar, mengapa engkau tidak marah, tidak menegur , tidak memarahi ku, tidak menasehatiku? Sedangkan aku menganggu kamu”. Malik bin Dinar pun menjawab karena bahwa beliau ingat sabda Rasulullah SAW yang berkenaan dengan tetangga, beliau mengutip hadits Rasulullah SAW “Jibril selalu berwasiat kepada ku mengenai tetangga sehingga aku mengira ia akan mewarisakannya”. Akhirnya, si-Yahudi itu menyesal, meminta maaf dan kemudian masuk Islam.
Kisah yang hampir sama dengan yang dialami oleh Malik bin Dinar. Kita kenal dengan Imam Hanafi atau imam Abu Hanifah. Dan kisah lain yang diberikan oleh Rosulullah SAW, dari kisahnya yang setiap beliau pergi ke masjid senantiasa mendapatkan hadiah ludah orang Yahudi dari atas loteng rumah. Rosulullah setiap hari diludahi, tetapi Rosulullah tidak pernah membalas dan tidak pernah marah. Suatu saat beliau tidak mendapatkan ludah yang biasa beliau terima ketika melewati rumah orang Yahudi tersebut. Ternyata si-Yahudi sakit, maka dengan kebesaran hati beliau Nabi Muhammad SAW dan rahmatnya yang penuh kasih sayang beliau menjenguk si-Yahudi itu. Pada akhirnya si-Yahudi mengesal atas perbuatannya dan kemudian masuk Islam. Inilah uswah hasanah yang dilakukan orang paling mulia yang patut sebagai panutan bagi umat-umatnya yakni Muhammad SAW.
Gambaran sekilas tentang bagaimana kemuliaan Islam, lebih baik memaafkan daripada membalas sekalipun diperbolehkan untuk meminta ganti rugi karena Allah akan mengampuni kita kalau kita melepaskan hak qisas kita. Islam, penuh kasih sayang terhadap siapa saja.
No comments:
Post a Comment