Hukum
menshalatkan jenazah adalah fardu kifayah (kewajiban yang gugur apabila
telah dilaksanakan). Keutamaan menshalatkan jenazah dijelaskan oleh Rasulullah
SAW:
"Barangsiapa yang keluar bersama jenazah dari rumahnya, menshalatkannya lalu mengiringkannya sampai memakamkannya, maka ia memperoleh pahala sebesar dua qirath, yang masing-masing seberat Gunung Uhud. Barangsiapa hanya menshalatkannya, maka ia mendapat pahala sebesar Gunung Uhud".
"Barangsiapa yang keluar bersama jenazah dari rumahnya, menshalatkannya lalu mengiringkannya sampai memakamkannya, maka ia memperoleh pahala sebesar dua qirath, yang masing-masing seberat Gunung Uhud. Barangsiapa hanya menshalatkannya, maka ia mendapat pahala sebesar Gunung Uhud".
Syarat Sah Sholat Jenazah
Syarat
syah sholat jenazah ada 3 yaitu :
1. Suci dari najis dan hadats
2. Menutup Aurat
3. Menghadap Kiblat.
1. Suci dari najis dan hadats
2. Menutup Aurat
3. Menghadap Kiblat.
Rukun Sholat Jenazah
Rukun
sholat jenazah ada 7 yaitu :
1. Niat
2. Berdiri, tanpa ruku' dan sujud
3. Bertakbir 4 kali
4. Membaca Surat Al-Fatihah
5. Bershalawat atas Nabi SAW.
6. Berdo'a untuk jenazah
7. Salam
1. Niat
2. Berdiri, tanpa ruku' dan sujud
3. Bertakbir 4 kali
4. Membaca Surat Al-Fatihah
5. Bershalawat atas Nabi SAW.
6. Berdo'a untuk jenazah
7. Salam
Tata Cara Sholat Jenazah
1. Imam berdiri ke arah kepala
(apabila jenazah laki-laki) dan ke arah perut (apabila perempuan)
2. Makmum sekurang-kurangya 3 shaf. Masing-masing shaf lebih baik terdiri dari 5 atau 7 orang.
2. Makmum sekurang-kurangya 3 shaf. Masing-masing shaf lebih baik terdiri dari 5 atau 7 orang.
Pada tata cara shalat jenazah masih terdapat perbedaan tentang jumlah takbir, ada yang berpendapat empat kali, lima kali takbir, dan enam kali takbir sebagaimana dalam hadits, Tapi, di dalam tulisan ini akan di jelaskan tata cara Shalat Jenazah dengan empat kali takbir.
Imam berdiri tepat di bagian kepala
mayit, jika jenazah adalah seorang laki-laki atau di bagian tengah badan
(perut) jika jenazah seorang wanita. Kemudian makmum berdiri di belakangnya,
sebagaimana dalam shalat yang lain, kemudian bertakbir sebanyak empat kali
dengan rincian sebagai berikut:
1. Takbir yang pertama,
Takbiratul
ihram tanpa membaca do’a iftitah, lalu mengucapkan ta’awudz dan
basmalah kemudian membaca Surat
Al-Fatihah.
2. Takbir ke dua,
Membaca shalawat sebagaimana bacaan
shalawat ketika Tahiyat. Yaitu mengucapkan shalawat atas Nabi
shallallahu’alaihi wasallam,
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدناَ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدناَ
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدناَ إِبْرَاهِيْمَ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدناَ
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدناَ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدناَ
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدناَ إِبْرَاهِيْمَ فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ
حَمِيْدُ مَجِيْدٌ
“Ya Allah limpahkanlah kesejahteraan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan kesejahteraan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia, dan berikanlah berkah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
3. Takbir Ketiga
Pada takbir yang ketiga ini membaca do’a untuk jenazah, Diantara lafaznya yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits:
اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
وَأَكْرِمْ
نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
وَنَقِّهِ
مِنْ
الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ
وَأَبْدِلْهُ
دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ
وَزَوْجًا
خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ
وَأَعِذْهُ
مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّار
Alloohummaghfir lahu Warhamhu Wa ‘Aafihi Wa’fu ‘ahu, Wa Akrim Nuzulahu, Wa Wassi’ Madkholahu, Waghsilhu Bil Maa’i WatsTsalji Wal Barodi, Wa Naqqihi Minal Khothooyaa Kamaa Naqqaitats Tsaubal Abyadho Minad Danasi, Wa Abdilhu Daaron Khoiron Min Daarihi, Wa Ahlan Khoiron Min Ahlihi, Wa Zaujan Khoiron Min Zaijihi, Wa Adkhilhul Jannata, Wa A’idhu Min ‘Adzaabil Qabri
"Ya
Allah, Ampunilah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan
tempat-kanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia
dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana
Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik
dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih
baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik
daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari
siksa kubur dan Neraka.” (HR. Muslim 2/663)
Atau Boleh
juga
Allahummaghfir
lahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu
bil-ma’i watstsalji wal-baradi.
"Ya
Allah, Ampunilah dia, maafkanlah dia dan tempat-kanlah di tempat yang mulia
(Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es".
Atau Boleh
juga
Allahummaghfir
lahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu.
"Ya
Allah, Ampunilah dia, rahmati dia dan maafkanlah dia"
4. Takbir Keempat
Setelah takbir yang ke empat,
diam sejenak atau membaca doa yang berbunyi :
اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْناَ أَجْرَهُ وَلاَ
تَفْتِنَا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَناَ وَلَهُ
Allahumma Laa Tahrimna Ajrahu wa laa
taftinnaa ba’dahu waghfirlana wa lahu
5.
Membaca Salam
Salam Seperti biasa dilakukan dalam
Shalat Shalat yang lain dengan mengucapkan:
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله
Assalamualaikum Warahmatullah
Ada perbedaan dalam penyebutan mayit
dalam doa pada shalat jenazah.
Doa di atas untuk mayit lelaki satu
orang.
Kalau dua orang laki-laki atau
perempuan, diganti dengan: HUMA.
Kalau perempuan satu orang, diganti
dengan: HA.
Kalau banyak mayit lelaki: HUM.
Kalau banyak mayit wanita: HUNNA.
Kalau gabung banyak mayat lelaki dan
wanita, bisa pakai: HUM.
Contoh : Allahummaghfir lahum
warhamhum, wa’aafihi wa’fu ‘anhum
Sebagian ulama berpendapat diam
tanpa membaca apapun setelah takbir ke empat sedangkan sebagian lain mengisinya
dengan bacaan di atas. Yang berpendapat diam berdasarkan pada hadits Abu Umamah
Sahl bin Hunaif radhiallahu anhu dimana beliau berkata:
“Yang menjadi sunnah dalam shalat jenazah
adalah bertakbir (yang pertama) lalu membaca Al-Fatihah, kemudian (pada takbir
kedua) bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian (pada
takbir ketiga) mendoakan jenazah. Tidak boleh membaca Al-Qur`an kecuali pada
takbir yang pertama.” (HR. Al-Hakim: 1/360, Al-Baihaqi: 4/39, dan dinyatakan
shahih oleh Al-Albani dalam Ahkam Al-Jana`iz hal. 121)
Wallahu ‘Alam
No comments:
Post a Comment